Diktisaintek Berdampak: Harapan dan Strategi Pendidikan Tinggi

Mayutamedia.com – Aula Graha Diktisaintek menjadi saksi bisu dialog yang hangat dan konstruktif antara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dengan perwakilan mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Rektor Universitas Andalas, mewakili suara mahasiswa dan pimpinan perguruan tinggi dalam acara peluncuran inisiatif strategis “Diktisaintek Berdampak” tanggal 2 Mei 2025.

Suara Generasi Muda: Tantangan dan Harapan dari Kampus Seni Yogyakarta

Dengan mengawali salam pembuka yang khidmat, perwakilan mahasiswa ISI Yogyakarta, Arya, menyampaikan sebuah prolog yang jujur dan reflektif mengenai realitas pendidikan tinggi saat ini. Arya tidak hanya menyoroti berbagai tantangan yang masih membayangi, mulai dari isu kesenjangan akses yang merata, kompleksitas tata kelola perguruan tinggi, hingga kesejahteraan tenaga pendidik dan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh rekan-rekan mahasiswa. Namun, di tengah penyampaian tantangan tersebut, tersirat pula optimisme dan harapan akan kemajuan pendidikan tinggi di masa depan. Sebagai representasi suara mahasiswa, Arya menekankan peran mereka bukan hanya sebagai mitra kritis yang mengidentifikasi masalah, tetapi juga sebagai mitra psikis yang turut memberikan dukungan dan pandangan konstruktif. Pertanyaan inti yang dilontarkan adalah mengenai proyeksi optimisme Menristekdikti terhadap pendidikan tinggi Indonesia dalam satu dekade mendatang, serta bagaimana seharusnya mahasiswa dapat berperan aktif dalam sinergi dengan Kemdiktisaintek untuk mewujudkan keberhasilan program-program yang telah dicanangkan.

Inspirasi dari Ranah Minang: Kontribusi Nyata Universitas Andalas dalam Ekosistem Inovasi

Sesi tanya jawab dilanjutkan dengan sambutan hangat dan laporan inspiratif dari Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif “Kampus Berdampak” yang dilihat sebagai penguatan signifikan dari program Kampus Merdeka yang telah berjalan. Dengan semangat kolaborasi dan sinergi, Universitas Andalas telah aktif menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha dan industri, hingga lembaga-lembaga global, dengan tujuan menghasilkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat. Sebagai contoh konkret, beliau memaparkan keberhasilan riset tumbuhan gambir yang mayoritas tumbuh di Sumatera Barat, yang berhasil dipatenkan menjadi tinta merah putih organik dan telah mensuplai jutaan botol untuk kebutuhan Pemilu 2024 di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, beliau juga menyoroti inovasi di bidang bioteknologi kesehatan, dengan ditemukannya berbagai produk rapid test, termasuk untuk TBC yang menjadi fokus pemerintah. Terakhir, beliau menyampaikan keterlibatan Universitas Andalas dalam riset pengembangan gandum lokal atas penugasan dari Menteri Pertanian, sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor. Dengan berbagai capaian ini, pertanyaan utama yang diajukan adalah mengenai strategi Kemdiktisaintek ke depan dalam mempererat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan pemerintah daerah, demi akselerasi dampak positif bagi bangsa.

Tanggapan Mendiktisaintek: Optimisme Terukur dan Strategi Kolaborasi yang Terarah

Menanggapi pertanyaan konstruktif dari Arya, Mendiktisaintek Brian Yuliarto memberikan pandangan yang lugas dan penuh harapan. Beliau menekankan bahwa tantangan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah adalah pekerjaan yang sulit, namun belajar dari keberhasilan negara lain yang memiliki ambisi dan tekad kuat yang merata di masyarakat, Indonesia memiliki potensi besar. Beliau mengajak mahasiswa untuk memiliki mimpi besar dan memanfaatkan masa kuliah sebagai periode emas untuk menimba ilmu dan berinteraksi dengan dosen, seraya menekankan pentingnya kolaborasi.

Menjawab pertanyaan Rektor Universitas Andalas, Menristekdikti memberikan apresiasi atas capaian-capaian inovatif Universitas Andalas. Beliau menjelaskan alasan strategis mengundang perwakilan industri dalam acara tersebut, yaitu untuk menjembatani “lembah kematian” antara riset dan komersialisasi. Beliau mengakui bahwa universitas seringkali terkendala dalam hilirisasi produk riset. Oleh karena itu, strategi ke depan adalah mendorong kolaborasi yang lebih erat, di mana perguruan tinggi fokus pada riset hingga prototipe atau produk awal, sementara komersialisasi dan pemasaran diserahkan kepada pihak industri yang lebih kompeten di bidang tersebut. Beliau juga mencontohkan kerjasama dengan BUMN dan sektor pertanian dalam pengembangan produk-produk strategis seperti alat tes kesehatan dan bibit gandum lokal, sebagai upaya mewujudkan kemandirian bangsa. Menristekdikti berharap forum ini menjadi titik awal sinergi yang lebih kuat antara pemegang kebijakan, akademisi, dan pelaku industri, dengan dukungan penuh dari Komisi X DPR RI.

Dialog interaktif ini tidak hanya menjadi ajang tanya jawab, tetapi juga platform untuk bertukar gagasan, menyampaikan aspirasi, dan memperkuat komitmen bersama dalam memajukan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi di Indonesia demi terwujudnya “Diktisaintek Berdampak” yang signifikan bagi kemajuan bangsa.

Keterangan Gambar:
Arya, mahasiswa ISI Yogyakarta menyampaikan pertanyaan pada sesi dialog dengan Menristekdikti Brian Yuliarto (Foto: YouTube Kemdiktisaintek)

You may also like